August 2015

Kebanyakan dari kita melihat sesuatu dari kamar yang sempit tanpa mau melihat luasnya dunia di luar.

Ketika mendengar kata2 budidaya jangkrik, saya langsung membayangkan box2 yang berisi eggtray dan dipenuhi jangkrik muda, menunggu dengan sabar selama 45 hari kemudian berbahagia ketika waktu panen tiba. Kadang bersedih karna hasil panen tidak sesuai dengan harapan atau harga jangkrik tidak sesuai dengan modal yang kita keluarkan.

Siang ini mata saya sedikit terbuka, saya menjadi menyadari ternak jangkrik yang dilakoni kita dan kawan2 adalah mata rantai yang tak berujung. Dimulai dari ketlatenan para petani telur jangkrik merawat jangkrik indukan, menyiapkan telur untuk dikirim kepada langganan peternak jangkrik lain dan menerima pujian apabila mutu telur seauai harapan peternak, kadang kala mendapat caci maki karna mutu telur tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Petani jangkrik yang menerima telur jangkrik dari penjual telur pun melewati mata rantai penetasan, perawatan jangkrik muda, mencari pur halus dan sayuran yang tepat untuk jangkrik sesuai dengan umurnya, menjaga kondisi lingkungan dan suhu, dan pada akhirnya panen tiba, mereka akan menanti hasil akhir dari perjuangan merawat jangkriknya, menerima harga yang sesuai dengan kerja kerasnya, namun kadang juga tidak sesuai.

Pengepul yang memanen jangkrik dari petani pun mempunyai mata rantai pekerjaannya sendiri, mereka babat alas menciptakan pasar, kemudian babat alas menciptakan produsen, berkolaborasi dengan petani jangkrik untuk memenuhi permintaan kios burung. Berhati2 membungkus jangkrik dan mendistribusikannya ke kios2 langganan.

Panjangnya mata rantai jangkrik ini membuka mata saya, usaha ini memberikan kontribusi ekonomi bagi banyak orang, mengebulkan asap dapur pelaku usahanya dan membuat roda perekonomian bergerak meskipun dengan skala kecil.

Mudah-mudahan, usaha ini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh banyak orang, semoga pelaku usaha ini diberikan kesuksesan kedepannya.
Semoga...


Bahkan, petani yang sudah berpengalamanpun tak akan mampu memanipulasi cuaca secara simultan.
Perubahan cuaca tahunan di Indonesia mulai berdampak pada peternak jangkrik. Para petani jangkrik banyak yang mengeluhkan gagal panen, jangkrik mati ketika menjelang umur 20hari, indukan gagal ganti kulit, adapun yang lolos metamorfosisnya maka akan sulit untuk bertelur. Kelangkaan jangkrik melanda sebagian besar kota di jawa, pun begitu dengan telur jangkriknya. Tanpa disadari, kebutuhan akan manipulasi suhu dan cuaca mutlak diperlukan ketika kita menghadapi cuaca yang tidak mendukung maksimalnya ternak jangkrik. Suhu dalam kandang harus tetap terjaga di angka 28°-32°c agar jangkrik terus beraktifitas, makan dan makan sehingga pertumbuhan jangkrik bisa maksimal, pemberian vitamin tambahan juga amat diperlukan, selain untuk menambah nafsu makan jangkrik, juga diperluka  untuk meningkatkan daya tahan tubuh jangkrik itu sendiri. Kejelian kita membaca situasi (suhu, paparan angin) dan kondisi jangkrik (kadar air dalam badan jangkrik, nafsu makan) akan membantu kita mengolah ramuan dan tindakan yang tepat untuk meningkatkan hasil panen jangkrik kita. Salam